Aku Menyesal (Kurang Lama) ke Praha!

Astronomical Clock

Perjalanan kami mengelilingi benua Eropa yang terkesan terburu-buru memang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, terutama masalah tenaga kami yang terus berpacu dengan sedikitnya waktu yang kami miliki.

Akhirnya, tiba saatnya kami mampir di kota nan indah ini, Praha, yang membuat kami menyesal seumur hidup karena kurang meluangkan waktu sedikit lebih banyak untuk mengeksplorasi tiap sudutnya.

Praha di Republik Ceko menjadi pilihan kami setelah beberapa pertimbangan dan rute perjalanan yang bisa kami tempuh dari Berlin di Jerman menggunakan bus lanjutan serta menjadi perjalanan transit sebelum menuju Wina di Austria untuk bertemu dengan teman kami di sana.

Negara ini menggunakan mata uang yang berbeda, mereka juga menggunakan dual currency, Euro dan Krona, dan tentu saja jauh lebih murah daripada negara Eropa yang sudah dan akan kami tuju selanjutnya.

Kami sampai di kota ini tanpa kebingungan yang berarti, hanya beberapa perhitungan kecil mengenai berapa uang yang akan kami tukar selama semalam disini, sehingga kami memutuskan untuk menukar sekitar 500ribu rupiah selama satu malam tersebut.

Langsung saja setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Hotel tempat kami menginap menggunakan metro dan bus lokal (seperti trans Jakarta, yang berhenti di setiap halte)

Kelelahan melanda, karena ternyata kami tidak menemukan posisi hotel kami berada, tanya ke penduduk sekitar tidak ada yang tahu, kami sudah berpikir bahwa kami tersesat.

Menapaki jalan dan lorong di kota ini cukup melelahkan karena kontur tanahnya yang naik turun, dengan membawa carrier dan kawan menggeret koper di jalanan dengan paving block yang tidak rata menambah penderitaan kami, berputar - berputar melewati gang-gang yang ada, ternyata hotel kami tidak terlihat karena berada di ujung jalan dan tidak kami lewati, ya kami kebablasan berjalan.

Sesampainya di hotel, kami cukup puas dengan kamar yang diberikan, dengan kasur untuk tiga orang yang dilengkapi dengan pemanas untuk menghangatkan badan serta beberapa perlengkapan untuk membuat teh juga tersedia.


Bongkar Muatan - Bongkar Koper - Bongkar Carrier = KAPAL PECAH!

Kami pun segera membongkar barang bawaan dan bersiap - siap untuk eksplorasi kota ini, berbekal peta yang diberikan oleh hotel serta jalur metro yang tersedia, perjalanan kami kembali dimulai.


Tidak perlu bingung pilih Jalur dan Nama Stasiun

Metro disini dilengkapi dengan petunjuk warna sesuai line nya, sehingga cukup mudah mengikuti kemana kita harus turun dan berganti jalur.

Tujuan kami adalah ke Alun - Alun Praha sekaligus berbelanja souvenir yang harganya lebih murah dari daerah lain, itupun karena kami takut tidak punya cukup waktu untuk melakukan itu besok.



Si Kawan betah nongkrong di Lapak Si Mamang :")


Camil Camil - Nom Nom

Sore ini tempat ini ramai, kami segera menuju beberapa penjaja souvenir dan menemukan apa yang kami mau, dengan sedikit tawar-menawar mereka melepas barang dagangan mereka, awan hitam mulai menggelayut dan angin dingin mulai menerpa, kami mempercepat transaksi kami, tapi terlambat! Hujan turun dengan derasnya.

Kami tidak menyangka, bahwa hujan akan turun sehingga kami meninggalkan ponco dan payung di kamar hotel, ahh.. ingin berlari kembali ke stasiun metro tapi itu berarti kami harus menerobos hujan dan berakhir basah kuyup.

Kami memutuskan untuk berteduh di salah satu bangunan, dimana banyak orang-orang lain melakukan hal yang sama.

Disinilah perasaan haru dan menyenangkan tersebut dimulai, kami menyebutnya : Praha Nan Magis!




Praha Nan Magis

Bayangkanlah dengan memandang foto ini, dengan kedinginan, kami berteduh berdempetan agar udara menjadi sedikit lebih hangat dan tidak jauh dari tempat kami berdiri terdapat panggung kecil yang di atasnya terdapat sekelompok Choir sedang menyanyikan beberapa lagu dalam bahasa asli dengan lantunan melodi dari piano serta alat musik instrumen lainnya, sayup-sayup suara mereka terdengar bercampur dengan suara air hujan yang turun.

Hujan + Musik + Bangunan Tua + Dingin = SEMPURNA! 

Kami seketika jatuh cinta dengan kota ini, kami jatuh cinta dengan apa yang mereka berikan dalam momen yang tidak terlupakan ini.

Berlebihan? Buat kami tidak, karena Praha menjadi sangat cantik di saat seperti ini, kami seolah melupakan bahwa pakaian kami telah basah oleh air hujan.

Akhirnya pertunjukkan pun selesai, hujan mulai mereda kami memutuskan untuk berlari ke Metro, kami tidak ingin masuk angin dan mengganggu sisa perjalanan kami.

Setelah berganti pakaian, mandi air hangat dan sedikit mengisi perut dengan Mie Gelas, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Kastil Praha, niatnya sih ingin duduk dari ketinggian dan memandang kota Praha dari kejauhan.

Sampai di sekitar lokasi, kami menaiki sekitar 200 anak tangga sekali jalan, perjuangan belum berakhir kawan! dengan semangat 45 kami menapaki tangga demi tangga.

Menakjubkan! Kami dapat melihat temaram kota Praha di kejauhan, sayang kamera handphone kurang kece mengambil momen malam ini, sehingga kami memutuskan untuk menikmatinya saja.

Berputar - putarlah kami di daerah tersebut, walau sudah sepi, kami mencoba nekat untuk masuk ke dalam beberapa area bangunan, walau gelap karena minimnya penerangan kami memberanikan diri untuk masuk, beruntungnya ada beberapa wisatawan lain yang juga melakukan hal sama jadi kami merasa ada teman menyusup.

Patung di sudut Kastil


Walau dingin tetep narsis

Malam itu, kami tidak berhasil masuk ke dalam Kastil, kami hanya sempat berfoto di depan Gerejanya saja : Saint Vitus Cathedral, tapi ini sudah cukup membuat kami bahagia, kami tidak akan sempat kembali kesini esok hari, sedikit kecewa, tapi malam semakin larut kami harus kembali ke hotel jika tidak ingin tertinggal metro dan bus terakhir.

Keesokan harinya, kami bangun dengan rasa penasaran untuk kembali menjelajah kota ini, sebelumnya kami memanfaatkan sarapan yang disediakan oleh hotel ini dan mendapati bahwa restoran hotel ini, kece pisan!

Betah banget sarapan disini

Makan Enak pagi ini, walau Rindu Nasi Putih :(

Kembali kami mengunjungi Old Town Square, karena beberapa obyek wisata terdapat disana, mulai dari Gereja dengan arsitektur kece banget, beberapa street performance yang ternyata lebih ramai di pagi hari, dan lebih banyak orang yang datang berkunjung di pagi ini.

Salah satu Arsitektur di dalam Gereja

Setelah kami puas berjalan-jalan di sekitar, kami harus kembali ke hotel karena bersiap-siap ke stasiun bus yang akan mengantar kami ke Wina.

Saya menyesal, karena kota ini tidak mendapatkan jatah kunjungan lebih banyak dibandingkan dengan kota lainnya, tempat ini jauh melebihi ekspetasi kami, lebih indah, lebih murah dan lebih "nyeni".

Bangunan kuno nya sangat terawat dan masyarakat sekitar seperti menyesuaikan kehidupan mereka dengan ikut di dalamnya.

Jika ada kesempatan lain, aku akan berkunjung ke kota ini lebih lama dan menikmati atmosfernya lebih intim, tak cukup semalam untuk menjelajahimu Praha, dan tak cukup semalam untuk membuatku melupakanmu, aku akan kembali karena aku jatuh cinta padamu!
Previous
Next Post »