Pulau Banyak : Keindahan itu butuh perjuangan

Kali ini, saya akan menceritakan perjalanan lainnya ke Pulau Banyak yang merupakan gugusan pulau di pesisir Aceh sebelah Timur. Peserta perjalanan kali ini adalah : Saya, Gerry, Wirdha, Rikza, Niko, serta Carlo, teman Couchsurfing dari Italia.

Perjalanan ini merupakan perjalanan paling indah, paling menakutkan, paling mendebarkan, paling menyenangkan, dan semua paling yang lainnya. Banyak yang kami lalui demi tercapainya perjalanan ini, dan akan saya rangkum ceritanya di bawah ini.

Sebelum perjalanan, 04 - 07 Februari 2013

Wirdha menelepon saya, menyampaikan maksud kalau dia ada destinasi wisata baru, yaitu pulau Banyak. Saya kemudian browsing di website mencari informasi tentang keberadaan pulau ini, bagaimana cara kesana, budget yang harus dipersiapkan, serta detail lainnya.

Carlo, si Bule Italia yang memang sudah beberapa minggu datang ke Indonesia, juga tertarik mengunjungi Pulau ini, setelah tujuan dia ke Banda Aceh dan Tapak Tuan. Si Carlo, ternyata sudah sampai duluan di Singkil hari Jumat pagi, salah informasi, akhirnya dia nyebrang dulu ke Pulau Balai.

Akhirnya, dapatlah informasi mengenai Pulau Banyak, segera saya hubungi travel untuk menanyakan jadwal keberangkatan dan penjemputan.

Jumat, 08 Februari 2013

Pukul 21.00 semua sudah berkumpul di Kost Saya, menunggu jemputan, setengah jam kemudian sopir datang, dan perjalanan pun dimulai. Tak lupa, mampir ke Indomaret untuk beli jajanan selama di jalan. 

Kurang lebih delapan jam perjalanan kami tempuh untuk sampai ke Kecamatan Singkil. Sampai depan pelabuhan, kita masih celingukan cari cara untuk nyebrang ke Pulau Banyak, dengan tujuan Pulau Balai sebagai Ibukota Kecamatan.

Sesuai dengan info yang didapatkan, ada beberapa cara untuk menyeberang ke Pulau.
  1. Boat Kayu, lama perjalanan normal, 3.5 jam, dengan biaya 35ribu - 50ribu per satu kali jalan
  2. Speed Boat, lama perjalanan normal, 1.5 jam, dengan biaya sewa 1,5juta per satu kali jalan (maks. 6pax)
  3. Kapal Ferry, lama perjalanan normal 3.5 jam, dengan biaya 25ribu per satu kali jalan, tapi hanya ada hari Selasa saja.
Berhubung keterbatasan waktu, karena kami cuma dua hari (pulang Minggu), maka kami memutuskan untuk sewa Speed Boat, kami mendapatkan harga 1,5juta untuk perjalanan Singkil - Pulau Balai (untuk jemput Carlo) - Palambak Besar plus 500ribu jika kita mau dia menunggu. Harganya memang cukup pantas, mengingat memang jarak pulau satu dan lainnya cukup jauh. 

Jadi total penawaran dia 2juta rupiah untuk Singkil - Balai - Palambak Besar - Singkil

Dek Dermaga - Bekas Pasar Ikan
Kami mencari alternatif lain, dengan menelpon salah satu referensi yang memang suka bawa tamu, di Pulau Balai sana, Irvan namanya, dia bersedia mengantarkan kami ke pulau tujuan (dan berkeliling di pulau sekitar - PP) dengan ongkos per orang 150ribu rupiah (jadi berlima 750ribu)

Total sejauh ini adalah 2,75 juta rupiah.

Kami cari cara agar bisa lebih murah lagi, kami coba tawar ke Speed Boat, untuk perjalanan Singkil - Balai PP = 1,5 juta rupiah. Penawaran sengit, akhirnya dia setuju. Kamipun, deal dengan Irvan untuk Ongkos kapal kayu keliling 750ribu.

Ongkos terakhir yang kami keluarkan : 2,256 juta rupiah. Hemat 500ribu dari rencana awal.
Selesailah urusan transportasi.


Berangkatlah kami menuju dermaga tempat boat parkir. Langit cerah pagi ini. Tempat ini merupakan Bekas Pasar Ikan yang telah hancur karena efek Tsunami yang menerjang Aceh dan sekitarnya, daerah Singkil dan sekitarnya merupakan daerah yang terkena gelombang balik (jadi air tersedot dari sini, dan dihempaskan ke Aceh bagian utara).

Speed Boat kami yang berwarna kuning (paling kanan di gambar), rada serem juga membayangkan armada yang akan membawa kami, karena terkesan "biasa saja"

Sedikit kritisi kelemahan armada ini, speed boat memang dilengkapi dengan pelampung keselamatan, tapi, bentuknya yang sudah nggak layak untuk dipakai, kalau dipaksakan pun saat kita "nyemplung" otomatis vest ini akan terlepas dari tubuh kita. Tapi, karena pagi itu semangat kami masih menggebu - gebu dan luar biasa jadi kita mengesampingkan safety, yang baru kami sadari sangat penting saat perjalanan pulang. So keep reading!

Sampailah kami di Pulau Balai, setelah sempat 2.5 jam terkatung - katung di atas lautan, perasaan lapar, seram, senang, semua bercampur jadi satu, kondisi cuaca di atas lautan sangat baik, hanya saja sempat bertemu dengan awan hitam yang rintik - rintik menurunkan hujan.

Pulau Balai, Sabtu 09 Februari 2013

Suasana Belakang Rumah Irvan
Carlo telah menunggu kita di dermaga, kemudian Irvan datang dan mengajak kami makan siang di rumahnya. Menu siang ini, ikan (yang saya ga tahu namanya) di bumbu balado plus sayur bening lahap kami santap. Antara lapar dan enak, feels home. Obrolan kami berlanjut tentang rencana setelah ini, atas rekomendasi Irvan kami merubah destinasi kami dari Pulau Palambak Besar ke Pulau Tailana.

Pulau Palambak Besar memang mempunyai keunggulan Pantai yang lebih Indah, tetapi privasi lebih didapatkan di Pulau Tailana karena hanya tersedia tiga buah cottage, tanpa listrik dan spot snorkling yang katanya lebih bagus. Kamipun setuju, karena ingin merasakan sensasi lain di pulau terpencil.

Setelah dzuhur, kami berangkat, setelah sebelumnya mengisi daya baterai handphone, kamera dan powerbank supply, yaaa taulah, zaman sekarang kalau ga update gak oke.

Perjalanan dimulai, tujuan pertama kami : Pulau Panjang.

Pulau Panjang, Sabtu 09 Februari 2013 

Gerry - Wirdha - Carlo - Rikza
Me and Myself
Sekilas, tidak ada yang menarik di Pulau ini, sampai kami mulai menjelajahi keindahan bawah lautnya. Alat snorkling telah dipakai, kami menyewa di Pulau Balai untuk google, kaki katak dan lifejacket seharga 55ribu untuk selama sehari penuh. 

Perairan berwarna biru muda menandakan dangkal, sementara biru tua adalah laut dalam. 

Di pinggiran kami tidak menemukan adanya kehidupan laut, akhirnya kami putuskan untuk berenang ke tengah. 
Dan! Luar biasa! Pemandangannya indah sekali, kami melihat terumbu karang berwarna warni, mulai dari batuan, sampai yang berbentuk otak, bergoyang goyang terkena arus, lalu kumpulan ikan yang jumlahnya sangat banyak, starfish warna merah, oranye. Luar Biasa!

Sayang, kami semua tidak punya underwater camera untuk mengabadikannya, jadi yaa, cukup memanjakan mata dan mengambil memorinya saja kami sudah puas.


Setelah puas berfoto di Pulau ini (sangat istimewa, karena hanya kami yang ada disini!), kami melanjutkan perjalanan ke Pulau selanjutnya, Tailana. Karena perjalanana kesana yang cukup jauh, Irvan dan Bapaknya memutuskan mengambil mesin yang lebih kencang.

Pulau Taliana, Sabtu 09 Februari 2013 

Memang lama juga perjalanan disini, bosan! Kami baru sampai di pulau ini sesaat setelah matahari tenggelam, pukul 18.30, jadi kira - kira hampir empat jam kami terkatung - katung di lautan. Hiks. Hari telah gelap, dan tak ada yang bisa kita lihat di pulau ini. Tanpa listrik. Saat menuju cottage, hanya kasur busa yang ada. Tapi cukup untuk kami tidur malam ini.

Cari toilet, tersedia, ada sisa air di dalam bak penampungan, itu saja! Kloset ada. Memang di belakang toilet ada sumur, tapi, embernya sangat kecil untuk menampung air. Jadi kita yang pengen mandi, jadi mengurungkan niat. Perjanjian kami, air hanya untuk poop dan pipis saja! Jadilah kami bolang hari ini ^^

Ide bikin api unggun muncul, mulailah kami mencari kayu kering untuk bahan bakaran, api menyala, tapi asapnya malah masuk ke kamar kami, niat kami urungkan untuk melanjutkan api unggun ditambah lagi angin yang bertiup cukup kencang.

Beberapa dari kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, sementara Carlo entah sudah kemana dia. Kami tertidur, sampai Irvan membangunkan untuk makan malam. Menu malam ini mie rebus, telor ceplok dan nasi. Memang menu yang dimasaknya cukup biasa, tapi kami sangat menikmatinya.

Rasanya badan ini sangat capek, si Carlo, malah mengajak kami keliling pulau dengan alasan, kapan lagi kita bisa merasakan hal seperti ini. Yaa, atas azas kesetiakawanan terpaksa kami menemaninya, tak lupa pakai anti nyamuk dulu donk.

Jalan - jalan di tepi pantai, mendongak ke atas, bintang nya banyak banget, langit sangat cerah walau angin bertiup kencang. Carlo matanya sangat jeli, beberapa kali dia menangkap sinar "bling" yang dikeluarkan oleh laba - laba air, dia bisa tau dengan pas jumlah laba - laba yang dilihat, kami sampai memicing - micingkan mata untuk mencoba menangkap sinar "bling" itu, tapi tetap tidak berhasil.

Karena angin yang semakin kencang, kami memutuskan untuk kembali saja. Saat balik ke kamar, Carlo sempat menunjukkan fotoplankton, jadi dia bilang saat malam hari, nampak seperti kunang - kunang menyala tapi di dalam air. Tapi, kami menganggapnya sebagai informasi biasa, yaa.. "bling" si laba - laba aja kita ga keliatan, apalagi si plankton.

Balik ke kamar, istirahat. Angin bertiup kencang, namun tidak hujan. Dalam kamar ini, berasa kaya ikan pindang, tapi kami menikmatinya. Hangat. Kami pun menuju ke Pulau Mimpi.
Pulau Tailana, Minggu 10 Februari 2013

Jam Biologisku memang tidak bisa ditipu, pukul 07.00 saya sudah bangun, dan berencana keliling pantai pagi ini. Niko dan Carlo sudah bangun terlebih dulu. Saya berjalan ke arah pantai, ee buset, si Carlo udah nyemplung aja di tengah laut.
Saya memutuskan iseng cari keong, senangnya hati, karena di Pulau ini banyak keong dari berbagai ukuran dan warna warni. Saya mengambil gelas kosong, dan mulai mengumpulkannya.
 
Saya berjalan menyusuri pantai, mengambil beberapa obyek dengan kamera Iphone, pemandangannya indah banget, lautan yang biru terhempas sejauh mata memandang, tampak pulau kecil lain di sekitarnya.

Lapar. Saya memutuskan kembali ke kamar, kulihat Wirdha sudah bangun, kemudian Gerry dan Rikza. Makanan belum siap, akhirnya kami memutuskan untuk bermain "ceblek nyamuk" sambil makan camilan, tak lupa mengajari Carlo untuk ikut bermain bersama kami.

Kira - kira pukul 09.00 makanan kami sudah siap, kali ini kami tidak makan di kamar Irvan seperti kemarin, tapi kami dibawa ke ruang makan di tengah pulau (seperti warung), menu pagi ini omelet, sayur bayam dan nasi putih.


Irvan menawari kami Kelapa Muda, tentu saja kami mau! Dia memanjat pohon kelapa! Ckckckc, benar - benar multitasking nih bocah. Irvan baru saja lulus SMK, dan dia bercita - cita untuk memajukan pariwisata Pulau Banyak, saya mendukungmu nak!

Setelah puas makan, jadwal kami adalah snorkling lagi, Irvan bilang kami bisa menikmati keindahan bawah air di pantai bagian belakang, waktu itu pukul 10.00, bergegaslah kami memakai peralatan dan kesana. 

Inilah : Pulau Tailana
Langit cerah menambah semangat kami untuk segera nyemplung, matahari juga bersinar terik sehingga kami berharap pandangan tidak terganggu saat snorkling. Mengagumkan! Hanya di perairan dangkal kami sudah bisa melihat karang, tumbuhan laut dan ikan warna warni, tidak perlu bersusah payah, berdiri pun badan saya tidak tenggelam.

Saya melihat segerombolan school of fish berkejar - kejaran di karang, dan beberapa jenis ikan lainnya. Berenang ke tengah (yang masih juga perairan dangkal), kita bisa melihat ikan warna warni dengan ukuran lebih besar dan jumlah yang lebih banyak. 

Cukup lama kami bermain air, foto - foto dan melakukan aktivitas menyenangkan lainnya di atas hamparan pasir putih.

Tak terasa waktu sudah cukup siang, pukul 11 kami bersiap - siap kembali ke Pulau Balai. Cuaca berubah menjadi buruk, sehingga Irvan dan Bapaknya memutuskan untuk memutar haluan kapal, melewati bagian lain dari Pulau hanya untuk menghindari hempasan angin yang kencang, otomatis waktu tempuh semakin lama.

Kembali kami terkatung - kantung di atas lautan, dengan persediaan yang makin menipis. Awan di kejauhan semakin hitam pekat, kami terpaksa menyandarkan kapal kayu kami di Pulau kecil lainnya, saya lupa namanya, untuk sekedar membeli suplai minuman, tentu dengan perasaan deg-deg-an karena waktu sudah semakin Sore.

Beberapa kali kapal boat yang menunggu kami menelpon Gerry, dan kita cuma bisa bilang sabar dan sabar, karena Irvan sendiri tidak tahu jam berapa kami bisa melanjutkan perjalanan.

Kira - kira Pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan, dengan diiringi doa, karena ombak laut yang semakin besar.

Seram.

Sekitar pukul 17.00 kami baru sampai di rumah Irvan, pemilik kapal boat sudah telepon kami, dan mengatakan bahwa ada badai di tengah laut. Dia tidak berani melanjutkan perjalanan, dan menyalahkan kita. Jika lebih awal saja kita sampai, kita masih bisa tembak balik ke Singkil.

Dicampuri perasaan bersalah, dan entah mau gimana, akhirnya diputuskan untuk menunggu sampai Badai reda. Satu Jam berlalu. 18.00 WIB cuaca bertambah buruk, semakin tidak berani untuk menerobos lautan lepas seperti itu.

Kami putuskan untuk menemuinya di pelabuhan, benar saja, ada kapal kayu besar yang membawa suplai makanan, dia cerita bahwa sudah dua hari tidak bisa kemari karena cuaca buruk, beruntung kami bisa sampai dengan selamat disini.

(walaupun sekarang kami galau, nggak bisa balik kesana >.<)

Dengan marah - marah si tukang boat memutuskan untuk menunda perjalanan besok Subuh.

Deng Dong!

Ditawar gak berhasil, akhirnya demi alasan keselamatan, yah sudah kita tunggu saja sampai besok pagi.

Alhasil, kita semua telpon atasan masing - masing, minta izin nggak masuk pas hari Senin, alasan macem-macem, ada yang bilang terdampar di pulau, ada yang bilang kena badai. Pokoknya diserem-seremin deh, biar izinnya Lolos.

Balik lah kami ke rumah Irvan dengan perasaan campur aduk, akhirnya si Ibu menyuruh kami mandi dulu dan makan malam supaya bisa berpikir lebih jernih. Kita semua bingung dengan apa yang akan kita hadapi esok pagi. Kami semua memutuskan untuk tidur.

04.00 WIB
Kami semua bangun untuk bersiap - siap, Bapak si Irvan sudah bangun, dan memperhatikan keadaan cuaca, yang ternyata tidak berubah. Angin masih kencang, ditambah rintik gerimis turun.

Tapi kami harus nekat! Kami harus pulang! Masih ada delapan perjalanan kami ke Medan (plus 3 jam saya harus ke Pangkalan Susu) >.<

Datanglah kami ke dermaga.

HORROR!

Kami baru sadar, bahwa driver kapal boat kami adalah dua buah bapak tua, yang satu jalannya dipapah, dan yang satu sudah tua, pake banget!

Kamipun harus melewati kapal lain yang bersandar untuk sampai ke atas boat kami.

Akhirnya duduklah kami semua di atas boat, terombang ambing.

Rrrr ... Rrrr ...

Mesin boat gak nyala..

Hampir 20 menit mesin nggak nyala.

Nggak iya nih, kita langsung ambil life jacket yang kemarin dibawa oleh Bapak ini dari Singkil. Deng Dong! Mimpi buruk selanjutnya, life jacket ini nggak cukup Proper untuk kami pakai, beneran nggak safety deh!

Akhirnya mesin menyala setelah beberapa kali dibantu oleh Carlo.
Bismillah! Kami siap berangkat.

5 menit .. Masih terlihat Pulau Balai di kejauhan, dan cahayanya yang semakin redup.

15 menit .. Kami mulai memasuki kegelapan... Tak ada cahaya.. Langit gelap, ditambah kilat mulai muncul di kejauhan..

Beberapa menit berjalan setelah itu, hujan deras turun.. Benar - benar hujan deras!! di tengah lautan.. Rasanya hidup kami sekarang cuma dibatasi antara kapal boat fiber ini, karena sebelah kami sudah lautan lepas! 

Dalam hati ingin kembali, tapi rasanya sudah tanggung! Kita sudah berada-di-ntah-dimana-hanya-Tuhan-dan-Pak-Tua-yang-Tau-Arahnya

Hujan yang turun nggak tanggung - tanggung, kenceng! angin! plus nusuk - nusuk kaya jarum.. Ditambah kami hanya berbalut lifejacket yang nggak lebih dari sekedar onggokan kain nggak berguna. Saya nggak bisa berenang! >.< dan kebanyakan dari kita juga gak bisa berenang!

Kami semua basah dan kedinginan.

Si Rikza menggigil sampai gemeretak giginya bikin ngilu sapapun yang dengar..

Kita tenggelam dalam diam dan berdoa masing - masing.

Saya sendiri, jujur, inget dosa! inget mama saya, inget semua. Gimana nggak, minggu depan itu mama saya ulangtahun, yang ada dipikiran saya adalah, jangan sampai kado mama saya adalah Tubuh Kaku saya. itupun kalau ditemukan, di tengah laut ini.

Jder!
Suara petir kerasa deket banget sama telinga

Duak!
Beberapa kali boat fiber ini terhantam gelombang dan jatuh karena gelombang.
Beberapa kali benturan bikin Wirdha pindah duduk di bawah, bersandar di antara papan boat fiber.

Kami kembali pada renungan masing - masing, diam tak berkata - kata.

Hanya suara gemeretak gigi Rikza yang bisa didengar. Plus komat kamit mulut kami. Sibuk menenangkan diri masing - masing. 

Kalau dibandingkan dengan naik roller coaster, bungee jumping atau tandem paralayang, itu semua nggak ada apa - apanya dibandingkan ini! Asli! Ngeri! Sumpah gak pake boong!

Duak!

Kembali lagi boat bergoncang, air dari laut membanjiri masuk ke dalam boat!
Panik! karena Wirdha sampe ngejerit karena air yang masuk lumayan banyak.
Bukan ngejerit karena air juga, kaget, karena ternyata bersama air-air itu, ada fitoplankton, yak! Yang dibilang sama Carlo itu akhirnya kami liat secara langsung, indah memang, karena dia mirip kunang - kunang tapi di dalam air.

dalam hati saya (dan mungkin teman - teman) berpikir "Ooo.. ini toh yang dimaksud"

Tapi karena suasana nggak mendukung, jadi kami cuma diam sambil mengamatinya.

Lewatlah kami dari hujan badai di tengah laut, dengar - dengar, kalau hujan di tengah laut, gelombang akan lebih tenang dan air akan menjadi lebih hangat. Kami sih nggak mikir sampai kesana, habisnya mikirin diri sendiri aja udah parno, apalagi mikirin info kaya gitu.

Pet!

Mesin boat mati. Iya mati! Totally! Kapal terombang ambing lagi di tengah laut, dua pak tua bercakap cakap dalam bahasa Aceh yang kita semua nggak tau.

Even kalau mereka ngomong "Tamatlah riwayat kita" mana kita tau juga >.<

Setelah ganti busi, dan tentu saja, dengan bantuan Carlo, boat dapat berjalan lagi.

Hujan telah berhenti. Ada hampir satu jam perjalanan kami dilanda hujan. Sudah nggak kebayang betapa basahnya badan kami..

Pet!

Mesin boat mati lagi. Kali ini, karena boat kehabisan bensin!! What a worse >.<
Tapi tenang, memang waktu berangkat, boat sempat kehabisan bensin, tapi si pak tua memang langsung mengisinya kembali.. Harapan kami, semoga dia nggak lupa isi jerigennya pas berangkat tadi. Syukurlah, tangki berhasil diisi.

Rrr.. Rrr..
Nggak nyala! aduuhh aduuuhhhhhh >.<
Nih boat ternyata bobrok banget, tau kan kalian gimana rasanya terombang ambing di tengah lautan, mual! ini yang saya rasakan, saya memang gak mudah mabuk laut, tapi kalau sudah berhenti seperti ini, dijamin, siapapun pasti mabuk.

Cara mengatasinya, cukup tundukkan kepala dan pejamkan, ikuti irama kemana goyangan tersebut, jangan dilawan! semakin dilawan maka akan semakin pusing!

Berhasil! Boat nyala dan berjalan seperti biasa. Karena terombang ambing sempet membuat boat muter - muter, saya takut aja waktu berhasil nyala, ternyata si pak tua salah menentukan arah, karena sepertinya, mereka lupa membawa kompas >.<

Syukurlah ada bintang penunjuk jalan, yang saya nggak tau itu bintang apa, yang jelas dia menyelamatkan kami gitu deh ^^

Pet! alamaaakkkkkkk, baru jalan gak lama boat nya ngadat lagiiiiiii.. dan ini yang paling parah, ada sekitar 20 menit kami nunggu boat bisa nyala, ditengah goncangan air laut yang bikin mabok. Carlo terpaksa turun tangan lagi.

Shit!

Dia mengumpat, tanda sebal karena harus jadi tumbal. Ohh Carlo, You are our hero! Coba nggak ada kamu, sapa coba yang kuat narik tuas boat itu >.<

Akhirnya boat kembali menyala, dan kami berharap, please jangan ngadat lagi..

Pak Tua bertanya kepada kami, kira - kira jam berapakah?

Kami menjawab, "06.00 pak!"

Dan ternyata, air laut sudah mulai tenang, dan nampak wajah lega dari pak tua. Sebentar lagi matahari akan menampakkan dirinya. Kami juga mulai lega, karena air laut mulai terlihat (yang ternyata lebih menyeramkan keliatan daripada nggak) >.<

The best Sunrise I ever had
Tak  berapa lama, matahari mulai terlihat, kami berucap banyak Alhamdulillah, walau belum sampai dengan selamat, tapi yang jelas kami tahu, bahwa kami akan selamat. Sungguh perjalananan yang mendebarkan, dimana hidup dan mati itu bedanya tipis. Memang terdengar sedikit lebay, tapi buat kami, memang begitulah adanya. Dan here it comes, ini adalah matahari terbit terindah dalam hidup kami. Tak berapa lama, kumpulan mangrove menyambut kami, itu berarti kami telah aman sampai kembali di Pulau Singkil.

Perjalanan kami kali ini, memang dibilang nekat, dan buat para traveller kami punya tips jika ingin berkunjung ke daerah ini.

1. Pastikan kondisi cuaca baik, tidak sedang dalam musim peralihan.
2. Pastikan anda mengambil cuti, 4 hari adalah waktu minimal perjalanan.
3. Pastikan anda membawa lifejacket sendiri
4. Pastikan anda memiliki teman yang bisa berenang dan pemberani.
5. Pastikan anda berlatih cara menghidupkan mesin kapal.
6. Pastikan anda membawa air minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
7. Pastikan anda sudah memberitahu orang rumah jika pergi kesini.
8. Pastikan iman anda sudah cukup, jika sewaktu - waktu ada pada kondisi kami.

Yang jelas! kami tidak akan kapok berkunjung ke pulau ini, tapi yang jelas, besok kami kamu ke toko dulu, beli life jacket sendiri! Yeah!! Mencegah lebih baik daripada kecemplung di tengah lautan.

Tambahan :
Rincian Pengeluaran 

Total ini kemudian dibagi berlima yak! Jadi deh perorang menghabiskan 700ribuan untuk petualangan yang berharga dan tak terlupakan. Oke oke oke ^^

Terimakasih sudah membaca petualangan gila kami kali ini. 
Sampai jumpa di petualangan Pulau Banyak berikutnya.
Salam Ngebolang Bareng!







Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
8 October 2017 at 00:16 ×

Luar biasa..
Saya jadi ikut nahan nafas mbaca nya.
Betewe, ini blog nya mas victo ya... Keren..

Congrats bro Dian ika riani you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar